Skip to content
Sejarah Kursi Ergonomis: Ketika Duduk Menjadi Ilmu image

Sejarah Kursi Ergonomis: Ketika Duduk Menjadi Ilmu

Ergonomi mengubah cara kita duduk. Pelajari sejarah kursi ergonomis, dari penyangga lumbar hingga kursi Aeron yang dirancang mengikuti kebutuhan tubuh.

share

Ketika membaca artikel ini, kemungkinan besar Anda sedang membaca sambil duduk. Coba perhatikan hal yang Anda rasakan saat ini. Apakah Anda membungkuk? Apakah Anda akan merasa nyaman duduk di kursi ini setelah satu atau dua jam berlalu?

Sepanjang sejarah, kursi memiliki fungsi yang beragam. Singgasana, misalnya, digunakan sebagai simbol kekuasaan, sementara lounge chair dirancang untuk bersantai.

Namun, kursi yang secara khusus dirancang untuk mendukung posisi dan pergerakan tubuh baru berkembang dalam beberapa dekade terakhir.

Perkembangan tersebut tidak terlepas dari ergonomi, yaitu disiplin ilmu yang mempelajari bagaimana manusia berinteraksi dengan benda, lingkungan, dan sistem secara optimal.

Dari sinilah muncul berbagai inovasi kursi ergonomis yang kini memiliki banyak fitur pengaturan dan bahkan terlihat seperti mesin berteknologi tinggi.

Lantas, bagaimana kursi berkembang dari sekadar tempat duduk menjadi perangkat yang dirancang untuk mendukung tubuh manusia?

Baca Juga: Membedah Kursi Aeron: Apa yang Membuat Herman Miller Aeron Begitu Istimewa?

Awal Perkembangan Ergonomis

Eames ergonomic measuring device filmed for Discovery, the San Francisco Museum of Modern Art’s public television program, 1952.

Meskipun prinsip-prinsip ergonomi telah ada selama ribuan tahun, konsep ini justru kembali muncul saat Revolusi Industri.

Saat itu, dunia industri berusaha meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Di sisi lain, dunia medis mulai mempelajari hubungan antara furnitur, kebiasaan duduk, dan kondisi tubuh manusia.

Para dokter mulai mengembangkan teori mengenai kebiasaan posisi duduk yang dianggap baik. Furnitur pun dirancang untuk membantu tubuh berada dalam posisi yang dianggap “benar”, yaitu duduk tegak dan relatif diam.

Konsep tempat duduk dari era ini telah menyebutkan beberapa elemen yang kita kenali pada kursi ergonomis saat ini, seperti lumbar support, dudukan yang bisa berputar dan roda pada kaki kursi.

Ergonomi Mulai Menjadi Disiplin Ilmiah

Perkembangan besar terjadi pada pertengahan Perang Dunia II, ketika kursi ergonomis mulai menjadi sebuah profesi dan disiplin ilmiah, disertai dengan kemajuan di bidang mesin dan teknologi.

Para insinyur menyadari bahwa mereka harus memperhitungkan faktor manusia seperti psikologis dan fisiologis ketika merancang sesuatu.

Salah satu contohnya terjadi dalam desain pesawat militer. Psikolog Angkatan Udara menemukan bahwa tingginya tingkat kecelakaan pada pesawat B-17 salah satu penyebabnya ternyata berkaitan dengan tombol-tombol kontrol pendaratan yang terlihat terlalu mirip. 

Dari sinilah semakin jelas bahwa desain yang baik harus mempertimbangkan kemampuan dan keterbatasan manusia.

Prinsip tersebut kemudian diterapkan dalam berbagai produk sehari-hari. Contohnya dapat ditemukan di banyak situasi, seperti peeler buah dengan pegangan yang nyaman, gunting yang mengikuti bentuk telapak tangan, hingga kursi kerja ergonomis yang dirancang untuk mendukung kenyamanan saat bekerja.

Henry Dreyfuss dan Popularitas Desain Ergonomis

Desain ergonomis menjadi populer berkat Henry Dreyfuss, desainer Honeywell. Dalam bukunya yang berjudul Designing for People (1955), Dreyfuss menjelaskan bahwa tugasnya adalah membuat manusia dan lingkungan mereka lebih kompatibel.

Untuk melakukan hal ini, ia sering berkonsultasi dengan dokter dan pakar medis dalam berbagai proyeknya.

Ia juga membuat buku panduan referensi yang menetapkan ukuran ideal untuk benda dan lingkungan berdasarkan ukuran rata-rata pria dan wanita, yang kemudian diadopsi secara luas oleh industri desain.

Pendekatan ini menjadi salah satu dasar penting dalam perkembangan desain ergonomis, termasuk dalam perancangan furnitur dan kursi.

Penelitian tentang Tubuh Merubah Desain Kursi

Figure drawings for patents filed for Aeron Chair in June 1992, with inventors listed as William Stumpf, Rodney C. Schoenfelder, Donald Chadwick, and Carolyn Keller.

Seiring penelitian medis dan teknologi pencitraan menjadi semakin maju, desain ergonomis juga berkembang.

Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, para dokter memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang biomekanika dan anatomi tulang belakang.

Mereka juga mengembangkan metode penilaian kenyamanan yang mengacu pada data objektif—seperti tekanan diskus lumbar (lumbar disc) dan aktivitas pada otot, bukan hanya berdasarkan pendapat atau persepsi seseorang.

Perkembangan penelitian tersebut menarik perhatian desainer Bill Stumpf. Ia menghabiskan 10 tahun mempelajari dampak duduk terhadap tubuh manusia, mulai dari kelelahan hingga kognisi dan nyeri punggung.

Menurutnya, kenyamanan fisik dapat membantu seseorang tetap fokus dan produktif. Ketika tubuh tidak terganggu oleh rasa tidak nyaman atau postur yang buruk, seseorang dapat lebih mudah berkonsentrasi pada pekerjaannya.

Ergon: Salah Satu Tonggak Kursi Ergonomis

Ergon “operational” chair with mannequin, 1976

Penelitian ini mendorong Stumpf untuk mengembangkan kriteria kenyamanannya sendiri yang terdiri dari 10 poin, yang ia demonstrasikan melalui Kursi Ergon.

Dirilis pada tahun 1976 oleh Herman Miller, kursi ini memiliki dudukan busa cetak berkontur yang menopang daerah lumbar dan bagian penting di tulang belakang, mekanisme kemiringan kursi (tilt), serta pengaturan ketinggian pada dudukan, sandaran punggung, dan sandaran tangan.

Konsep utama Ergon adalah untuk mengakomodasi “kebutuhan postur” dan “keinginan postur”. Dengan kata lain, kursi tidak hanya dirancang agar seseorang duduk dalam satu posisi, tetapi juga memberikan kebebasan untuk mengubah posisi sesuai aktivitas.

Hal tersebut terlihat dalam salah satu kampanye iklan Ergon yang memperlihatkan seorang pebisnis bekerja di mejanya sepanjang hari dan memperlihatkan dirinya bersandar ketika menerima panggilan telepon, bersandar sambil berpikir dalam-dalam dengan kaki disilangkan, dan mengangkat pahanya melewati sandaran tangan ketika membaca sebuah laporan.

Pesannya cukup sederhana: kursi ergonomis seharusnya dapat mengikuti berbagai posisi tubuh manusia, bukan memaksa manusia untuk terus berada dalam satu posisi.

Dari Ergon ke Aeron: Kursi yang Lebih Inklusif

Namun, ada satu tantangan besar dalam menciptakan furnitur ergonomis: produk dibuat secara massal, sementara setiap manusia memiliki bentuk dan ukuran tubuh yang berbeda.

Saat merancang Ergon, Stumpf tidak hanya mengacu pada tubuh rata-rata manusia. Strategi ini juga menjadi dasar bagi produk sukses berikutnya dengan membuat kursi inklusif: Kursi Aeron.

Kursi ergonomis ini dirilis pada tahun 1994, dirancang bekerja sama dengan Don Chadwick. Alih-alih menggunakan bantalan busa konvensional, kursi ini menggunakan engineered textiles yang fleksibel dan memungkinkan sirkulasi udara yang lebih baik.

Tekstil ini juga membantu menyangga dan mendistribusikan beban tubuh secara merata serta menghilangkan titik-titik tekanan.

Menariknya, Stumpf dan Charwick pertama kali mengembangkan konsep ini ketika membuat prototipe kursi malas yang ditujukan untuk kaum lansia. 

Teknologi material ini kemudian membawa perubahan besar dalam industri furnitur dan menjadi bagian dari perkembangan kursi kerja modern.

Baca Juga: Mengapa Ada Kursi Ergonomis yang Lebih Mahal? Memahami Nilai Dibalik Investasinya

Ketika Kursi Ergonomis Menjadi Terlalu Nyaman

Saat ini, kursi ergonomis menjadi perlengkapan utama di kantor dan memungkinkan seseorang duduk di atasnya selama berjam-jam.

Dalam beberapa hal, kursi-kursi tersebut sudah menjadi terlalu nyaman digunakan. Para dokter memperingatkan bahwa “duduk adalah kebiasaan merokok yang baru” karena kaitan antara gaya hidup sedentary dan meningkatnya risiko kanker, diabetes, serta penyakit jantung.

Karena itu, persoalan kesehatan akibat terlalu banyak duduk tidak dapat diselesaikan hanya dengan menciptakan kursi yang lebih ergonomis.

Desain furnitur kemudian mulai mengambil arah baru. Selain kursi ergonomis konvensional, muncul produk yang mendorong pengguna untuk lebih sering bergerak, seperti meja sit-stand dan berbagai jenis tempat duduk yang dirancang agar pengguna tidak berada dalam satu posisi terlalu lama.

Pada akhirnya, perkembangan kursi ergonomis bukan hanya tentang bagaimana menciptakan kursi yang semakin nyaman. Ergonomi juga mengajarkan bahwa kursi terbaik adalah kursi yang membantu kita bekerja dengan nyaman sekaligus mengingatkan bahwa tubuh tetap perlu bergerak.